Jajanan Kaki Lima Legendaris di Semarang: dari Lumpia Gang Lombok sampai Tahu Pong
Wisata Jajanan Semarang yang Bertahan Lintas Generasi
Sebagai kota pelabuhan tertua di pesisir utara Jawa, Semarang menyimpan jajanan yang sudah melewati beberapa generasi pemiliknya. Dari kawasan Pecinan sampai Simpang Lima, aroma masakan lama masih setia menemani warganya setiap malam.
Lumpia Gang Lombok, Pecinan. Salah satu lumpia tertua di kota ini, dirintis oleh keturunan Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi lebih dari satu abad lalu. Kini generasi ketiga meneruskan usaha di Gang Lombok No. 11, dengan isian rebung, telur, dan ayam atau udang yang dibungkus kulit renyah.
Tahu Pong Karangsaru, Jalan Pringgading Raya. Berdiri sejak 1949 dan kini dikelola generasi ketiga, warung ini menyajikan tahu kopong goreng renyah dengan acar lobak dan sambal kecap pedas. Teknik menggoreng khusus turun-temurun membuat teksturnya tetap konsisten.
Es Puter Cong Lik, Pecinan. Ikon jajanan malam sejak 1982, es puter ini memakai santan alih-alih susu sehingga menghasilkan tekstur lembut dan rasa khas. Namanya berasal dari sebutan akrab untuk pedagang cilik yang merintisnya.
Soto Bangkong, Jalan Majapahit. Melayani soto ayam sejak 1950, warung ini juga menyediakan sate ayam, sate tempe, dan sate bergedel sebagai pelengkap semangkuk soto hangat.
Nasi Ayam Bu Wido, Jalan Melati Selatan. Berjualan sejak era 1960-an hingga larut malam, nasi ayam ini disajikan di atas pincuk daun pisang dengan harga yang tetap ramah di kantong.