Jajanan Kaki Lima Legendaris di Jakarta: dari Gultik sampai Kerak Telor
Wisata Jajanan Jakarta yang Bertahan Puluhan Tahun
Ibu kota tidak pernah kehabisan pilihan jajanan malam. Di sepanjang trotoar, dari kawasan elite Kebayoran Baru sampai gang sempit Kota Tua, para pedagang kaki lima menjaga resep yang sama sejak generasi pertama membuka lapak mereka.
Gulai Tikungan (Gultik), Blok M. Berjejer di tikungan Jalan Mahakam menuju Jalan Bulungan sejak era 1980-an, deretan gerobak ini menyajikan gulai santan kental berisi daging sapi, urat, dan tetelan yang dimasak dengan rempah seperti cengkeh, jahe, dan jintan. Ramai setiap malam, terutama setelah jam makan malam usai.
Sate RSPP, Kebayoran Baru. Berdiri sejak dekade 1960-an tepat di depan Rumah Sakit Pusat Pertamina, warung sate ini konsisten mempertahankan gerobak kayu khasnya. Sate ayam dan kambingnya dibakar dengan potongan besar, kadang dicampur kulit dan lemak, lalu disiram bumbu kacang.
Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Ikon sejak 1958, nasi goreng ini memakai minyak samin dan kaldu kambing saat menumis, menghasilkan aroma yang jauh lebih tajam dibanding nasi goreng biasa.
Kerak Telor, kawasan Kota Tua. Jajanan khas Betawi ini populer sejak tahun 1940-an. Beras ketan dimasak bersama telur (ayam atau bebek) di atas tungku arang hingga membentuk kerak renyah, lalu ditaburi serundeng dan bawang goreng.
Es Selendang Mayang, Kota Tua. Minuman pelepas dahaga khas Betawi berbahan tepung hunkwe berwarna-warni, disajikan dengan santan dan gula merah cair — teman pas setelah berkeliling Kota Tua.
Kekayaan jajanan kaki lima ini jadi bukti bahwa di tengah gempuran restoran modern, resep warisan keluarga tetap punya tempat di hati warga Jakarta.